2.2.a.9 Koneksi Antar Materi_ Modul 2.2
Pembelajaran Sosial Emosional (PSE)
Konsep Pembelajaran Sosial Emosional
Sebelum berbicara tentang Pembelajaran Sosial Emosional terlebih dahulu marilah kita membuka kembali tentang pendidikan Budi Pekerti.
Bapak Ki Hajar Dewantara
mengemukakan pembelajaran holistik dalam filosofi budi pekerti (diambil dari
Presentasi “Filsafat Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan Ki Hajar Dewantara,
Syahril, 2020).
“Pendidikan Budi Pekerti
berarti pembelajaran tentang batin dan lahir. Pembelajaran batin bersumber pada
“Tri Sakti”, yaitu: cipta (pikiran), rasa, dan karsa (kemauan), sedangkan
pembelajaran lahir yang akan menghasilkan tenaga/perbuatan. Pembelajaran budi pekerti adalah pembelajaran
jiwa manusia secara holistik. Hasil dari pembelajaran budi pekerti adalah
bersatunya budi (gerak pikiran, perasaan, kemauan) sehingga menimbulkan tenaga
(pekerti). Kebersihan budi adalah bersatunya cipta, rasa, dan karsa yang
terwujud dalam tajamnya pikiran, halusnya rasa, kuatnya kemauan yang membawa
pada kebijaksanaan.”
Menurut Ki Hajar
Dewantara, pengajaran budi pekerti tidak lain adalah menyokong perkembangan
hidup anak-anak lahir dan batin, dari sifat kodrati menuju arah peradaban dalam
sifatnya yang umum. Pengajaran ini berlangsung sejak anak-anak hingga dewasa
dengan memperhatikan tingkatan perkembangan jiwa mereka (Ki Hajar Dewantara
dalam Mustofa, 2011).
Dalam Permen Kemendikbud
No. 20 tahun 2018 yang mengatur tentang Pendidikan Penguatan Karakter pada
Satuan Pendidikan Formal. Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) adalah gerakan
pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat karakter
peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah
raga dengan pelibatan dan kerja sama antara satuan pendidikan, keluarga, dan
masyarakat sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM). PPK berorientasi pada berkembangnya potensi
peserta didik secara menyeluruh dan terpadu, keteladanan dalam penerapan
pendidikan karakter pada masing-masing lingkungan pendidikan; dan berlangsung
melalui pembiasaan dan sepanjang waktu dalam kehidupan sehari-hari.
Kerangka Pembelajaran
Sosial dan Emosional berbasis penelitian ini bertujuan untuk mendorong
perkembangan anak secara positif dengan program yang terkoordinasi secara lebih
baik antara berbagai pihak dalam komunitas sekolah.
Pembelajaran Sosial dan
Emosional yang ditujukan untuk jenjang pendidikan usia dini hingga menengah ini
dikembangkan pada tahun 1994 oleh sekelompok pendidik, peneliti, dan pendamping
anak (salah satunya adalah Psikolog Daniel Goleman, pencetus teori Kecerdasan
Emosi).
Pembelajaran Sosial dan
Emosional adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh
komunitas sekolah. Proses kolaborasi ini memungkinkan anak dan orang dewasa di
sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif
mengenai aspek sosial dan emosional.
Tujuan Pembelajaran Sosial Emosional
Pembelajaran
sosial dan emosional bertujuan:
1. Memberikan pemahaman, penghayatan dan
kemampuan untuk mengelola emosi
2. Menetapkan dan mencapai tujuan positif
3. Merasakan dan menunjukkan empati kepada
orang lain
4. Membangun dan mempertahankan hubungan yang
positif
5. Membuat keputusan yang bertanggung
jawab.
Sedangkan
Implementasi Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) dapat dilakukan dengan 4 cara:
1. Mengajarkan Kompetensi Sosial Emosional
(KSE) secara spesifik dan eksplisit
2. Mengintegrasikan Kompetensi Sosial Emosional
(KSE) ke dalam praktik mengajar guru dan gaya interaksi dengan murid
3. Mengubah kebijakan dan ekspektasi sekolah
terhadap murid
4. Mempengaruhi pola pikir murid tentang
persepsi diri, orang lain dan lingkungan.
Pendekatan SEL yang efektif seringkali
menggabungkan empat elemen yang disingkat dengan SAFE
1. Sequential/berurutan: Aktivitas
yang terhubung dan terkoordinasi untuk mendorong pengembangan
keterampilan
2. Active/aktif: bentuk Pembelajaran Aktif yang
melibatkan murid untuk menguasai keterampilan dan sikap baru
3. Focused/fokus : ada unsur pengembangan keterampilan sosial
maupun personal
4. Explicit/eksplisit: tertuju pada pengembangan
keterampilan sosial dan emosional tertentu secara eksplisit.
Hakekat
Pembelajaran Sosial Emosional
Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) adalah hal yang
sangat penting. Pembelajaran ini mengajarkan keterampilan-keterampilan yang
dibutuhkan oleh anak untuk dapat bertahan dalam masalah sekaligus memiliki
kemampuan untuk memecahkannya. Hakekat Pembelajaran Sosial Emosional untuk
emmberikan keseimbangan pada seseorang dan mengembangkan kompetensi personal
yang dibutuhkan. Bagaimana kita sebagai pendidik bisa menggabungkan dalam
pembelajaran sehingga anak-anak dapat belajar menempatkan diri secara efektif
dalam konteks lingkungan yang ada.
Sebagai
seorang pendidik selain tugas mengajar di depan kelas, mengoreksi pekerjaan
murid dan memberikan umpan balik, menghadiri rapat dengan orang tua murid untuk
mendiskusikan masalah kedisiplinan dan disusul dengan menulis laporan kepada
kepala sekolah, dan berbagai tugas sebagai wali kelas atau panitia kegiatan
sekolah sudah antri untuk dikerjakan. Apa yang Anda rasakan saat itu?
Mungkin kita merasa sulit bekerja dengan optimal. Anda mungkin sulit
berkonsentrasi saat bersama murid di kelas, merasa kurang sabar saat berkomunikasi
dengan orang tua murid, atau akhirnya lupa mengecek artikel untuk buletin
sekolah hingga sudah larut malam. Belum lagi, dengan berbagai tugas di atas,
seorang guru juga dibutuhkan untuk mendampingi dan membimbing tumbuh-kembang
murid.
Selain
pendidik, murid-murid pun mengalami situasi yang sama. Mereka dihadapkan dengan
berbagai tantangan untuk dapat menyesuaikan diri dengan pertumbuhan dan
perkembangan dirinya. Selain tugas-tugas akademik, mereka juga harus mampu
menyesuaikan diri dengan perubahan fisik, hubungan dengan teman sebaya,
mencapai kemandirian dan tanggung jawab diri dalam keluarga dan masyarakat,
menyiapkan rencana studi dan karier, dan lain-lain.
Untuk
menghadapi berbagai situasi dan tantangan yang kompleks ini, baik pendidik
maupun murid membutuhkan berbagai bekal pengetahuan, sikap dan keterampilan
agar dapat mengelola kehidupan personal maupun sosialnya. Pembelajaran di
sekolah harus dapat mendorong tumbuh kembang murid secara holistik, baik aspek
kognitif, fisik, sosial dan emosional.
Pentingnya
guru memahami Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) sehingga dapat
membantu pemahaman dan penerapan pendidik dalam mengelola aspek sosial dan
emosional diri sendiri sekaligus dapat menerapkannya pembelajaran sosial dan
emosional pada murid secara lebih sistematik dan komprehensif dan dapat membantu
menyelesaikan permasalahan yang dihadapi.
Ruang Lingkup Pembelajaran Sosial Emosional
Pembelajaran Sosial Emosional dapat
diberikan dalam 3 ruang lingkup yaitu:
- Rutin :
Kegiatan atau pendekatan yang dilakukan diluar waktu belajar akademik yang
dilakukan secara rutin (misalnya : Ekstrakurikuler, perayaan hari besar,
kegiatan sekolah, apel pagi, kerjabakti, senam bersama, kunjungan perpustakaan,
membaca bersama, seminar/pelatihan)
- Terintegrasi dalam pembelajaran : sebagai strategi
pembelajaran atau diintegrasikan dalam kurikulum
- Protokol : Menjadi budaya atau aturan sekolah yang
sudah menjadi kesepakatan bersama dan diterapkan secara mandiri oleh murid atau
sebagai kebijakan sekolah untuk merespon situasi atau kejadian tertentu.
Lima Kompetensi Pembelajaran Sosial
Emosional
Ada beberapa kata kunci, yaitu:
- kesadaran (awareness)
- perhatian yang disengaja (on purpose)
- saat ini (present moment)
- rasa ingin tahu (curiosity)
- kebaikan hati (compassion)
Artinya ada keterkaitan antara unsur pikiran (perhatian), kemauan (yang bertujuan), dan rasa (rasa ingin tahu dan kebaikan) pada kegiatan (fisik) yang sedang dilakukan.
Kesadaran penuh (mindfulness) muncul
Kesadaran
penuh (mindfulness) muncul saat seorang sadar sepenuhnya pada apa yang
sedang dikerjakan dengan pikiran terbuka, atau dalam situasi yang menghendaki
perhatian yang penuh. Misalnya, seorang anak yang terlihat asyik bermain peran
dengan menggunakan boneka tanpa terganggu oleh suara sekitarnya, murid yang
sedang memainkan musik, menulis jurnal, menikmati alur cerita dalam
bacaan, menikmati segelas teh hangat, atau menikmati pemandangan matahari
terbenam, atau guru yang sedang mendengarkan murid dengan penuh
perhatian. Intinya adalah adanya perhatian yang dilakukan secara sadar
dengan dilandasi rasa ingin tahu dan kebaikan.
Latihan
berkesadaran penuh (mindfulness)
Latihan
berkesadaran penuh (mindfulness) menjadi sangat relevan dan penting bagi
siapapun untuk dapat menjalankan peran dan tanggung jawabnya dengan bahagia dan
optimal. Ini termasuk bagi pendidik, murid bahkan juga untuk orangtua. Latihan
tersebut sebenarnya sudah banyak diterapkan dalam pendidikan kita sejak lama.
Misalnya, mengajak murid untuk hening dan berdoa sebelum memulai pelajaran,
mendengarkan cerita, menghayati keindahan alam, berolah-seni maupun
berolahraga, dan lain sebagainya.
Mindfulness dalam Kurikulum
Pada
tahun 2011, The Hawn Foundation bekerjasama dengan Columbia University
mengembangkan sebuah kurikulum yang disebut ‘the MindUp Curriculum’.
Sebuah kurikulum yang ditujukan untuk tingkat Pra Sekolah sampai kelas 8. The
Mindup Curriculum adalah kurikulum pembelajaran yang bertujuan untuk
menumbuhkan kesadaran sosial dan emosional (social and emotional awareness),
meningkatkan kesejahteraan psikologis (psychological well-being), dan
keberhasilan akademik yang berbasis penelitian dan praktik kelas
(www.thehawnfoundation.org).
Sejak
tahun 2019, sebanyak 370 sekolah negeri di seluruh Inggris mengadopsi
mindfulness dalam kurikulumnya. Di Indonesia, penerapan mindfulness dalam
kurikulum juga sudah diterapkan dalam berbagai institusi pendidikan. Salah
satu sekolah di Jakarta secara khusus memasukkan mindfulness dalam
kurikulum pendidikan TK hingga Kelas 12. Murid-murid di sekolah tersebut
melaporkan bahwa mindfulness membantu mereka dalam proses
pembelajaran (Kompas, 27 Juli 2019). Video yang ditampilkan pada bagian awal
penjelasan kesadaran penuh ini adalah hasil karya salah satu murid sekolah
tersebut.
Mindfulness
mengajarkan pada saya untuk mengurangi segala ketegangan dan merasakan syukur atas
segala nikmat yang telah diberikan Alloh SWT, (mindfulness) adalah sesuatu yang kita
miliki secara alami dan bisa kita latih setiap hari, untuk itu (mindfulness)
bisa memingkinkan kita lebih sadar akan diri sendiri dan orang lain.
Komentar
Posting Komentar